Dedensoleh’s Blog

Just another WordPress.com weblog

summary

In this chapters we have highlighted the fact that education constitutes an integral part of society and culture and, therefore, has to be seen as being relational. That is to say, the nature of the changes taking place in school organization can be understood properly only if they are examined in relation to the external events that have given legitimacy to particular practices and processes – and, by that fact, the exclusion of different possibilities. Instead of selecting out systems, process and ‘performativity’ as the key organizing principles- which is the case in the prevailing school effectiveness framework, analysis needs to acknowledge discursivity. The includes acknowledgement of the fact that: • Education is grounded in particular forms of social relation that are circumscribed and sustained by complex societal power networks, practiced and processes. And, at the same time, account needs to be taken of the inherently disordered and unstable nature of determining forces, and the different value interests that underpin the prevailing model of educational change. The past decade has been a period of relentless change in education • The quality control processes put into place to sustain the dominant model of educational change and development have discursive impact to effects. This necessarily includes variables such as equity, social justice and values as these relate to the lives of those involved in education (teacher and pupils) as well as the communities in which they live and work. • Education operates within an organically interactive context traversed by a diverse range of often conflicting and contradictory individual, cultural and institutional meanings. As is argued by Angus (1993:342) The embeddedness of schooling within wider social dynamics and power relationships means that context is relational, dynamic and interactive such that, for instance schools and schooling are influenced by, but also influence, the cultural milieu of the society I which they are embedded. They articulate with other sectors of the social formation and contribute to power relations and widely shared beliefs across sectors of society and macro-cultures. The issues throughout this chapter have highlighted the fact that the relative ‘effectiveness’ (or not) of schools needs to be seen and understood in relation to the influences of a variety of social, political and cultural factors. Thus educational discussion need to incorporate wider sets of questions that transcend circumscribed taxonomies of school effectiveness within the marrow confines of bureaucratic power processes. They need to address issues related to the motivations of the policy drivers; the primary significations that give meaning to the particular notion of social change that predominates; cultural power and the role of education within a reconceptualized transformative democratic polity. Educational change and development are intrinsically political.

Mei 17, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

TEORI BELAJAR

            Manusia dalam menjalani hidupnya perlu adanya pertumbuhan bagi perkembangan hidupnya. Setiap detik, menit, jam, dan hari dunia mengalami perkembangan yang dinamis. Maka manusia harus mengimbangi pertumbuhan dunia yang selalu dinamis itu dengan mendapatkan ilmu dan pengetahuan agar kita tidak tertinggal. Dalam mendapatkan ilmu dan pengetahuan manusia diharuskan belajar.

            Banyak orang beranggapan bahwa belajar adalah proses mentransformasikan ilmu dari suatu objek ke objek yang lainnya. Ada juga yang beranggapan belajar adalah menuntut ilmu atau mencari ilmu. Itu semua merupakan konsep yang kurang benar tentang belajar. Apabila konsep itu diterapkan maka sama saja orang tersebut ibarat botol kosong yang perlu diisi air. Apabila botol tersebut diisi air sebanyak-banyaknya maka air yang masuk ke dalam botol tentunya sesuai dengan daya tampung botol tersebut.

 

  1. Pengertian Belajar

 

Ada beberapa pengertian belajar menurut para ahli antara lain:

  1.  
    1. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of Learning (1975) “Belajar berhubunga dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelehan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
    2. Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
    3. Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) “Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
    4. Witherington, dalam buku Educational Psychology “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakap[an, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.”
    5. Menurut James o. Wittaker belajar dapat diidentifikasikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulklan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

            Dari pengertian-pengertian belajar diatas dapat diambil benang merah bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku atau kepribadian seseeorang berdasarkan oleh situasi tertentu dari hasil latihan dan pengamatan. Belajar dapat merubah seseorang dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dan dari yang tidak sanggup menjadi sanggup.

 

  1. Beberapa Aktivitas Belajar

 

            Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku dari seseorang, oleh karena itu belajar harus dilakukan dengan beberapa aktivitas. Manusia mendapatkan ilmu atau pengajaran terdapat berbagai macam cara, antara lain yang telah dituliskan oleh Wasti Soemanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan Landasan kerja Pemimpin Pendidikan (2006).

1)      Mendengarkan

            Dalam kehidupan manusia sehari-hari ada pergaulan atau sosialisasi dalam bentuk obrolan-obrolan verbal. Secara tidak langsung manusia menangkap pembicaraan verbal itu dengan pendengarannya dan mampu menyerap ilmu dari pendengaran-pendengarannya tersebut. Dalam metode mengajar di sekolah juga ada metode mengajar ceramah yang berarti siswa mendengarkan semua perktaan dari guru dan siswa bertigas untuk menyerap intisari dari perkataan guru tersebut. Tetapi tidak semua orang dapat memanfaatkan metode belajar ini, metode belajar ini dinilai sudah kuno karena disini guru sebagai pusat dari berbagai ilmu (teacher center). Dalam balajar tidak hanya mendengar saja tetapi akan lebih baik lagi apabila dilakukan metode atau aktivitas lain lagi.

2)      Memandang

            Di dunia ini banyak sekali hal yang  dapat dijadikan ilmu melalui stimulus visual kita. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang bisa kita pandang. Hal itulah yang bisa dijadikan ilmu oleh kita. Alam dan lingkungan kita dalah sekolah yang bisa dijadikan pembelajaran lewat memandang.

3)      Meraba, Mencium, dan Mencicipi/Mengecap

            Hal-hal tersebut seperti meraba, mencium, dan mencicipi adalah aktivitas sensorik sama halnya dengan mendengar dan memandang. Aktivitas meraba, mencium dan mengecap dapat dijadikan pembelajaran apabila didorong oleh kebutuhan-kebutuhan atau motivai untuk mencapai tujuan tertentu.

4)      Menulis dan Mencatat

            Mencatat adalah salah satu aktivitas dari belajar. Seseorang mencatat atau menulus sebuah poin-poin untuk mudah diingat dan diaplikasikannya. Tidak semua aktivitas mencatat adalah suatu proses belajar seperti menjiplak atau mengkopi termasuk menyontek adalah aktivitas mencatat yang menurun. Mencatat yang dikatakan belajar adalah apabila dalam mencatat tersebut dapat diketahui tujuan dan kebutuhannya agar proses belajar dapat menyerap.

5)      Membaca

            Membaca merupakan aktivitas belajar yang apabila dapat dilakukan dengan benar dpat mengakibatkan penyerapan ilmu. Membac yang bukan dikatakan belajar adalah membaca sambil berbaring atau tiduran. Membaca sambil berbaring bukan dikatakan belajar karena pikiran orang yang membaca sambil berbaring terbagi antara membaca dan tiduran. Membaca yang efektif adalah membaca dengan set, misalnya dengan memperhatikan judul, topik-topik, utama dengan berorientasi ke tujuan.

6)      Membuat Ikhtisar atau Ringkasan, dan Menggarisbawahi

            Ikhtisar atau ringkasan ini dapat membantu mengingat segala macam ilmu yang sudah kit abaca lewat buku pada masa-masa yang akan datang. Sementara membaca, hal-hal yang penting dapat kita garis bawahi untuk membantu mengingatkan kembali hal yang kit abaca dim as-masa yang akan datang. Hal-hal ini dapat membantu pengingatan kita dalam jangka waktu panjang yang akan datang.

7)      Mengamati Tabel-Tabel, Diagram-Diagram, dan Bagan-Bagan

            Dalam buku atau di lingkungan lain banyak kita jumpai bagan, tabel dan diagram. Materiil non-verbal ini sangat berguna untuk mempelajari materiil yang relevan itu. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang mambantu pemahaman kita tentang sesuatu hal.

8)      Menyusun Paper atau Kertas Kerja

            Dalam membuat paper yang terutama perlu mendapat perhatian adlah rumusan topik paper tersebut. Dari rumusan topik tersebut dapat ditentukan materiil yang relevan. Paper yang baik memerlukan perencanaan yang masak dengan terlebih dahulu mengumpulkan ide-ide yang menunjang serta penyediaan sumber-sumber yang relevan.

9)      Mengingat

            Mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu, belum termasuk sebagai aktifitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termauk aktifitas belajar, apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktifitas-akrifitas belajar lainnya.

10)  Berfikir

            Dengan berfikir kita dapat menemukan penemuan-penemuan yang baru setidaknya kita menjadi tau tentang sesuatu yang telah kita pikirkan. Dengan berfikir kita akan mendapatkan gagasan-gagasan mengenai pemikiran kita.

11)  Latihan dan Praktek

            Latihan dan praktek merupakan ektivits belajar dengan mengaplikasikan teori dan ilmu yang sudah didapatnya ke dalam dunia nyata. Orang melaksanakan kegiatan belatih tentunya sudah mempunyai dorongan untuk mencapai tertentu yang dapat mengembangkan aspek pada dirinya. Orang yang berlatih atau berpraktek sesuatu tentunya menggunakan set tertentu sehingga setiap gerakan atau tindakannya terarah kepada suatu tujuan.

 

 

 

  1. Teori Belajar

 

            Untuk lebih memperjelas pengertian kita mengenai belajar, dan bagaimana proses belajar itu sendiri maka akan dijelaskan mengenai teori-teori belajar yang telah ditemukan oleh para ahli psikologi menurut aliran psikologinya yang merupakan hasil penyelidikannya. Teori belajar yang terkenal dalam psikologi antara lain ialah :

  1.  
    1. Teori Conditioning
    2. Teori Connectionism, dan
    3. Teori menurut Psikologi Gestalt

 

a.      Teori Conditioning

 

1)      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

            Teori ini adalah teori belajar dengan menguji seeklor anjing yang sudah dibedah sedemikian rupa sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya. Anjing itu dimasukkan ke dalam ruangan yang gelap. Di dalam riangan itu hanya terdapat sebuah lubang di depan moncongnya. Alat-alat yang dipergunakan dalam percobaan itu antara lain makanan, lampu senter untuk menyorotkan berbagai macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.

            Dari hasil percobaan-percobaan yang dilakukan Pavlov maka dapat disimpulkan bahwa gerakan reflek itu dapat dipelajari; dapat berubah karena adanya latihan. Sehingga dapat dibedakan reflek ke dalam dua macam yaitu reflek wajar (unconditioned reflex) yaitu reflek yang keluar air liur karena melihat makanan yang lezat dan refleks bersyarat/refleks yang dipelajari (conditioned-reflex) yaitu keluarnya air liur karena menerima atau bereaksi dengan warna sinar tertentu, atau terhadap bunyi tertentu.

            Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar iru adalah suetu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian timbulkan reaksi (response). Yang terpenting menurut teori ini ialah adanya latihan-lathan yang intensif dan kontinu.

 

 

2)      Teori Conditioning dari Guthrie

 

            Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deratan-derartan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi/respons dari perangsang/stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sehingga merupakan deretan-deretan unit tingkah laku yang terus menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosialisasi antar unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan. Ulangan-ulangan atau latihan yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

 

3)      Teori Operant Conditioning (Skiner)

 

            Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons sama seperti Pavlov dan Watson. Hanya perbedaannya, skinner membuat perincian lebih lanjut antara perbedaan dua macam respons, yaitu:

  1. Respondent rensponse (reflexive response)

      Yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. misalnya keluar air liur setelah melihat makanan tertentu.

  1. Operant response (instrumental response)

      Yaitu respon yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu perangsang tersebut dinamakan reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsang itu memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme.

 

4)      Teori Systematic Behaviour (Hull)

 

            Clark C. Hull mengungkapkan teorinya yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, dan ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.

b.      Teori Conectionism (Torndike)

 

            Proses belajar menurut Thorndike adalah teori belajar yang melalui proses trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan) dan law of effect (segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Thorndike mengujinya dengan menguju seekor kucing yang dimasukka ke dalam kandang yang tertutup dan diluar kandang tersebut terdapat sepiring makanan. Kucing tersebut mencoba keluar dengan mengelilingi kandang tersebut. Pada suatu ketika pintu terbuka secara tidak sengaja. Lama kelamaan kucing itu telah terbiasa dengan keadaan itu dan telah tau bagaimana cara membuka pintu kandang tersebut dengan waktu yang lama dan berulangkali.

 

c.       Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt

 

            Belajar menurut teori psikologis Gestalt dapat diterangkan sebagai berikut. Pertama dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan fktor yang penting. Dengan belajar dapat dipahami dan mengerti hubunngan  antara pengetahuan dan pengalaman. Kedua, dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.

            Manusia adalah mahluk yang mempunyai jasmani dan rohani. Manusia bukan makhluk reaksi yang hanya berbuat atau beraksi jika ada perangsag yang mempengaruhinya. Jadi dalam teori ini pengalaman secara membabibuta saja tetapi dengan pemahaman adalah cara yang efektif untuk belajar bagi manusia.

 

SUMBER-SUMBER

 

Djiwandono, Sri E.W. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Edisi Revisi. Jakarta: PT    Gramedia Widiasarana Indonesia.

Purwanto, Ngalim. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Bandung: Rosdakarya

Soemanto, Wasty. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN; LANDASAN KERJA PEMIMIPIN PENDIDIKAN. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mei 3, 2009 Posted by | Pendidikan | 2 Komentar

supervisi pendidikan

Sekolah Bermutu Baik

 

            Sekolah yang bermutu adalah yang dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan. Sekolah yang bermutu tidak muncul begitu saja melainkan hasil dari kerja kinerja dalam memanage sekolah tersebut.

 

Contoh ciri-ciri sekolah yang kurang baik:

  1. Bangunan kurang memadai
  2. Fasilitas kurang lengkap
  3. Guru sering bolos atau malas
  4. Miss manajemen
  5. Miskin metode pengajaran
  6. Kurikulum tidak baik
  7. Biayanya cenderung murah
  8. Perilaku siswa kurang berpendidikan

 

Konsep Supervisi Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

 

            Supervisi adalah bantuan professional yang dilakukan oleh supervisor untuk meningkatkan mutu pendidikan. Supervisi bertujuan untuk meningkatkan prestasi siswa melalui proses belajar yang konsruktif, yang ditangani oleh guru professional.

 

Supervisi identik dengan:

  • Proses peningkatan prestasi siswa
  • Proses peningkatan proses belajar
  • Proses peningkatan prestasi guru

 

GURU

PBM

Peningkatan Prestasi Siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai kunci pendidikan          Proses PBM berjalan baik        Prestasi siswa meningkat

 

 

Perkembangan Konsep Supervisi

 

Yang harus dimiliki oleh seorang supervisor

  • Knowledge (ilmu pengetahuan)
  • Technical skill
  • Human Relations

 

Fungsi dan peranan supervisor

  • Researcher (peneliti)
  • Evaluator (penilai)
  • Improver (pemerbaik)
  • Developer (pengembang)

 

Taksonomi Supervisi

 

Supervisi è  to assistance in the development to better teaching learning situation.

            Artinya : membantu untuk meningkatkan proses belajar mengajar agar lebih baik.

 

            Supervisi berangkat dari kebutuhan guru bukan kesalahan guru. Supervisi membantu menciptakan iklim yang lebih baik dalam proses belajar mengajar.

 

Indikator guru yang baik:

  • Menerangkan pelajaran dengan jelas
  • Menyenangkan dakam belajar
  • Merubah yang sulit jadi mudah
  • Pelajaran yang abstrak jadi konkrit

 

Perbedaan antara pengawasan dan supervisi

PENGAWASAN => Mengawasi penyimpangan=> Mencari-cari kesalahan
SUPERVISI => Membantu kearah perbaikan=> Pembinaan

 

 

 

 

 

 

Mutu Mengajar

 

Delapan keterampilan generic mengajar

  1. Bertanya
  2. Memberi penguatan
  3. Membuat variasi
  4. Menjelaskan
  5. Memmbuka dan menutup pelajaran
  6. Membimbing diskusi kelompok
  7. Mengelola kelas
  8. Mengajar kelompok kecil individual

Penguasaan 8 keterampilan byang terintregasi akan mengefektifkan proses pembelajaran

 

Perilaku supervisor :

  • Komitmen terhadap mutu pendidikan
  • Sahabat semua orang
  • Ikhlas, dari hati ke hati
  • “Batur pakumaha dina keur susah”
  • Partisipan kerja sama
  • Trampil memberi pelayanan

 

Fokus bidik supervisi

            Penampilan mengajar yang harus diperbaiki secara terus menerus:

  • Peningkatkan kemampuan merencanakan pembelajaran
  • Peningkatan kemampuan penyajian materi
  • Peningkatan kemampuan menilai proses dan hasil belajar

 

Teori Pembelajaran

 

System pembelajaran meliputi :

  1. Merumuskan tujuan belajar
  2. Menetapkan bahan ajar
  3. Memilih metode dan media instruksional
  4. Mengelola interaksi instruksional
  5. Menyelenggarakan evaluasi

 

Gaya belajar pada umumnya:

1)      Kinestetik/Haptik 37%

  • Bergerak
  • Menyentuh
  • Melakukan

2)      Visual 29%

  • Dengan gambar
  • Bioskop
  • Gambar hidup

3)      Auditorial

  • Melalui suara

 

Daya serap belajar :

  • 10% dari apa yang dibaca
  • 20% dari apa yang didengar
  • 30% dari apa yang dilihat
  • 50% dari apa yang dilihat dan didengar
  • 70% dari yang dikatakan dan dikeluarkan
  • 90% dari apa dilakukan

 

Kepuasan mengajar

 

Bantuan / layanan profesional
Mengajar
Belajar
Prestasi

 

 

            Dalam proses belajar mengajar terjadi proses transaksi akademik yang pedagogis. Dimana guru yang bertindak sebagai pengajar dan siswa yang bertindak sebagai orang yang diajar. Dalam proses belajar sama halnya dengan proses mengubah diri.

 

Kelemahan pada umumnya dalam praktek pengajaran :

  • Kurang mempersiapkan pelajaran dengan baik
  • Tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang tujuan yang akan dicapai
  • Kurang memberikan bimbingan terhadap peserta didik dalam proses belajar
  • Enggan menghadapi peserta didik yang lamban
  • Tidak memberikan evaluasi pembelajaran

Kelemahan dalam metode mengajar

  • Hanya metode ceramah
  • Kurang menimbulkan minat belajar
  • Tidak menunjukkan pentingnya pelajaran yang diberikannya
  • Tidak memiliki keterampilan menggunakan berbagai metode mengajar
  • Tidak mengajarkan tentang cara yang terbaik mempelajari pelajarannya

 

Keterampilan yang diperlukan supervisor

  • Kepemimpinan; mempengaruhi staff agar menyumbangkan segenap kemampuannya yang dimiliki
  • Human Relation; gaul dan memelihara suasana perssaudaraan yang baik agar emosi dan perasaan anggota staff kondusif, supaya suasana kerja tetap produktif
  • Administrasi personil; “the right man in the right place”
  • Kerja kelompok; memimpin kelompok untuk memecahkan persoalan bersama seperti rapat, diskusi, seminar.
  • Evaluasi; menilai perencanaan, proses dan hasil pekerjaan guru

 

Prinsip supervisi

  1. supervisi dimulai dari aspek yang positif
  2. Hubungan pengawas dengan guru hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif
  3. Pertemuan / diskusi antara pengawas dan guru demokratis
  4. Suasana sipervisi terepusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, berada di dalam ruang lingkup tingkah laku mengajar
  5. Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data hasil observasi yang cermat didasarkan atas kontak, serta dilaksanakan dengan segera
  6. Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru, baik pada tahap perencanaan, analisis, pengambilan keputusan, tindak lanjut.

 

Dialog profesianal

 

            Dialog prof Baca lebih lanjut

Mei 3, 2009 Posted by | Pendidikan | 2 Komentar

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

 

            Ada berbagai pendapat tentang bebagai macam dari model untuk membuat suatu keputusan. Berbagai pendapat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. E.S. Quade

            Menurut pendapat ini model dapat diklasifikasikan menjadi model kualitatif dan model kuantitatif.

  1. Model kualitatif

                  Model ini didasarkan atas asumsi-asumsi yang tingkat ketepatannya masih kurang dibandingkan dengan model kuantitatif, karena model ini dibuat berdasarkan pertimbangkan subjek pengambil keputusan. Model ini lebih tepat apabila digunakan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Karena setiap orang mempunyai kemampuan dan daya nalar tersendiri terhadap setiap persoalan yang dihadapi.

  1. Model kuantitatif

                  Merupakan serangkaian asumsi yang tepat, dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti. Model ini dapat berupa persamaan atau analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi komputer yang berupa program-program. Ciri-ciri pokok model ini adalah ditetapkan secara  lengkap melalui asumsi-asumsi, dan kesimpulannya berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan menggunakan pertimbangan intuisi tentang praktik dunia nyata.

 

2. Herbert G. Hicks dan c. Ry Gullet

            Mereka berdua membedakan model-model keputusan ke dalam model probabilitas dan model matriks.

a.      Model Probabilitas

                 Model ini membahas tentang kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang terhadap suatu peristiwa tertentu, dan nilai harapan atas terjadinya peristiwa tersebut. Nilai dari sesuatu yang diharapkan pada setiap peristiwa adalah kemungkinan terjadinya peristiwa dikalikan dengan kondisional.

b.      Model Matriks

                 Penerapan model matriks ini dimaksudkan untuk menyajikan secara khusus kombinasi antara berbagai strategi atau beberapa alternatif yang digunakan dan nilai atau hasil yang di harapkan pada masing – masing strategi atau alternatif model ini terdiri atas dua hal pokok yaitu garis yang menggambarkan berbagai strategi atau alternatif di pakai sebagai dasar pengambilan keptususan, dan lajur yang menggambarkan kondisi dam situasi yang berlainan pada masing – masing alternatif strategi. 

 

3. B.A. Fisher

            Menurut pendapat ini, model dalam pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Model Preskiptif

                  Model yang menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan dengan cara memberikan pedoman dasar, agenda, jadwal dan urut-urutan yang membantu kelompok mencapai consensus. Model ini disebtu jugasebagai model normatif.

      Penerapan model preskiptif atau model normatif meliputi lima langkah, yaitu :

  • Orientasi, yaitu menentukan bagaimana situasi yang dihadapi.
  • Evaluasi, yaitu menentukan sikap yang perlu diambil.
  • Pengawasan, yaitu menentukan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut.
  • Pengambilan keputusan, yaitu menentukan pilihan atas berbagai alternatif yang telah dievaluasi.
  • Pengendalian, yaitu melakukan pengawasan terhadap pelaksannan hasil keputusan.

 

  1. Model Deskriptif

                  Model yang menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan. Model ini juga menerangkan (menggambarkan) segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Model ini juga memberikan kepada manajer informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan-keputusan, dan tidak menawarkan penyelesaian masalah.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Model Keputusan

      Pengambilan keputusan merupakam proses interaksi antara input-input sebagai bahan dsar pembentukan suatu model keputusan, yang terdiri atas tujuan organisasi, kendala-kendala intern,kriteria pelaksanaan dan berbagai alternatif pemecahan masalaah. Imteraksi tersebut diharapkan akan menghaslkan output yang baik yang berupa pelaksanaan keputusan,pengendalian, dan umpan baliknya.

      Pengambilan keputusan baik keputusan pribadi maupun keputusan kelompok dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. keadaan lingkungan dn nilai-nilai yang kerap kali bertentangan
  2. pengaruh politik
  3. emosionalisme
  4. tingkat pendidikan
  5. model keputusam faktual.

Lima faktor tersebut akan berpengaruh terhadap pembentukan suatu model keputusan

Mei 3, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN & PEMBANGUNAN

PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan bibimbingan yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya (Langeveld). Orang dewasa ini dapat diartikan seorang guru yang notabene lebih dewasa secara ilmunya dari pada seorang anak yang belum mencapai kedewasaannya. Anak yang belum mencapai kedewasaannya berarti anak yang secara ilmu belum mencukupi, bukan berarti orang yang beru,ur tua tidak bisa mengenyam pendidikan lagi. Dalam pepatah disebutkan belajarlah dari mulai buaian ibu sampai liang lahat.

PEMBANGUNAN

Pembangunan seringkali diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai keadaan yang telah direncanakan yang diartikulasikan dalam bentuk sistem ekonomi dan struktur masyarakat barat. Kegiatan pembangunan ini disebut juga membangun., membangun bukan hanya dalam bentuk fisik saja seperti membangun gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan yang besar, tetapi pembangunan harus terlebih dahulu dilakukan dari manusia-manusia lewat pendidikan. Tanpa adanya pembangunan manusia terlebih dahulu, maka pembangunan fisik tidak akan terjadi, meskipun bisa terjadi tetapi tidak akan bertahan lama.

MODERN

Modern ialah segala hal yang selama ini kita kenal sebagai “maskulinitas”. Maskulinitas berarti kejantanan dalam artian konteks jenis kelamin. Tetapi dalam konteks modern maskulinitas berarti kejantanan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan yang didapatkan dari peradaban di dunia. Seperti dikemukakan tadi, tidak hanya ada satu model masyarakat modern. Namun, pada umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model manapun dari suatu masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian), ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional.

TRADISIONAL

Tradisional adalah sebuah peradaban yang dibuat oleh manusia pada masa lalu. Tradisional ini bertolak belakang dengan modern, tradisional berarti peradaban masa lampau manusia yang lebih klasik dan kontemporer. Hidup tradisional berarti bergaya hidup seperti orang-orang zaman dahulu yang lebih mengutamakan kebudayaan.

WESTERNISASI

Westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, kultural dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan bangsa-bangsa, terutama kaum muslimin, dengan gaya Barat. Dengan cara menggusur kepribadian Muslim yang merdeka dan karakteristik nya yang unik. Kemudian kaum muslimin dijadikan tawanan budaya yang meniru secara total peradaban Barat. Sekarang. Westernisasi membuat kebudayaan bangsa timur seperti Indonesi ini menjadi merasa terkurung dan tidak bisa mengembangkan kebudayaannya secara luas. Dampak-dampak dari westernisasi adalah pergaulan bebas yang sama sekali bukan merupakan jati diri bangsa Indonesaia dan bangsa-bangsa timur pada umumnya.

GLOBALISASI

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Globalisasi menuntut manusia untuk saling berinteraksi dengan manusia lainnya di seluruh dunia melalui IT yang sekarang sedang marak di permukaan bumi ini. Dampak dari globalisasi ini adalah munculnya kebudayaan-kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia, yang disebut dengan westernisasi.

LOCAL WISDOM

Local wisdom apabila diartikan dalam bahasa Indonesia berarti kearifan local. Kearifan lokal, warisan nenek-moyang bangsa Indonesia, berupa tata nilai masyarakat, yang tujuannya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Memang terasa konyol dan irasional. Tapi, sungguh sangat efektif dan berhasil guna. Ia menjadi benteng kita yang setidaknya hingga tahun 1970-an mampu melindungi lingkungan hidup kita dengan baik.

PERBEDAAN AKAL, NALURI DAN INSTING

Akal adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Naluri adalah apa yang dibawa oleh mahluk hidup semenjak dilahirkan di dunia. Contohnya manusia mempunyai naluri untuk menguasai apa yang ada di sekitarnya, hewan buas mempunyai naluri untuk membunuh hewan kain untuk bertahan hidup. Insting sama seperti naluri, akan tetapi insting hanya dimiliki oleh hewan. Imstimg hewan adalahbagaimana caranya agar mereka bisa bertahan hidup dengan berbagai cara. Apakah mungkin terjadi modernisasi tanpa pendidikan ? Menurut saya modernisasi tidak akan terjadi tanpa pendidikan. Karena modernisasi adalah bentuk kemajuan peradaban manusia. Kemajuan peradaban manusia tidak akan terjadi tanpa adanya pendidikan. Pendidikan yang terjadi secara kontinu membuat perkembangan bagi peradaban manusia. Hasil dari peradaban kehidupan manusia yaitui adanyas modernisasi seperti adanya ilmu-ilmu sains, teknologi, dan ilmu-ilmu lain yang berkembang pada zaman sekarang.

Mei 2, 2009 Posted by | Pendidikan | 2 Komentar

Fiqih

Fiqih atau adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.[1] Beberapa ulama fiqih seperti Imam Abu Hanifah mendefinisikan fiqih sebagai pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah.
Fiqih membahas tentang cara bagaimana cara tentang beribadah, tentang prinsip Rukun Islam dan hubungan antar manusia sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam Islam, terdapat 4 mazhab dari Sunni, 1 mazhab dari Syiah, dan Khawarij yang mempelajari tentang fiqih. Seseorang yang sudah menguasai ilmu fiqih disebut Faqih.

Mei 2, 2009 Posted by | Agama | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Mei 2, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.