Dedensoleh’s Blog

Just another WordPress.com weblog

TEORI BELAJAR

            Manusia dalam menjalani hidupnya perlu adanya pertumbuhan bagi perkembangan hidupnya. Setiap detik, menit, jam, dan hari dunia mengalami perkembangan yang dinamis. Maka manusia harus mengimbangi pertumbuhan dunia yang selalu dinamis itu dengan mendapatkan ilmu dan pengetahuan agar kita tidak tertinggal. Dalam mendapatkan ilmu dan pengetahuan manusia diharuskan belajar.

            Banyak orang beranggapan bahwa belajar adalah proses mentransformasikan ilmu dari suatu objek ke objek yang lainnya. Ada juga yang beranggapan belajar adalah menuntut ilmu atau mencari ilmu. Itu semua merupakan konsep yang kurang benar tentang belajar. Apabila konsep itu diterapkan maka sama saja orang tersebut ibarat botol kosong yang perlu diisi air. Apabila botol tersebut diisi air sebanyak-banyaknya maka air yang masuk ke dalam botol tentunya sesuai dengan daya tampung botol tersebut.

 

  1. Pengertian Belajar

 

Ada beberapa pengertian belajar menurut para ahli antara lain:

  1.  
    1. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of Learning (1975) “Belajar berhubunga dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelehan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
    2. Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
    3. Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) “Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
    4. Witherington, dalam buku Educational Psychology “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakap[an, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.”
    5. Menurut James o. Wittaker belajar dapat diidentifikasikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulklan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

            Dari pengertian-pengertian belajar diatas dapat diambil benang merah bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku atau kepribadian seseeorang berdasarkan oleh situasi tertentu dari hasil latihan dan pengamatan. Belajar dapat merubah seseorang dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dan dari yang tidak sanggup menjadi sanggup.

 

  1. Beberapa Aktivitas Belajar

 

            Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku dari seseorang, oleh karena itu belajar harus dilakukan dengan beberapa aktivitas. Manusia mendapatkan ilmu atau pengajaran terdapat berbagai macam cara, antara lain yang telah dituliskan oleh Wasti Soemanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan Landasan kerja Pemimpin Pendidikan (2006).

1)      Mendengarkan

            Dalam kehidupan manusia sehari-hari ada pergaulan atau sosialisasi dalam bentuk obrolan-obrolan verbal. Secara tidak langsung manusia menangkap pembicaraan verbal itu dengan pendengarannya dan mampu menyerap ilmu dari pendengaran-pendengarannya tersebut. Dalam metode mengajar di sekolah juga ada metode mengajar ceramah yang berarti siswa mendengarkan semua perktaan dari guru dan siswa bertigas untuk menyerap intisari dari perkataan guru tersebut. Tetapi tidak semua orang dapat memanfaatkan metode belajar ini, metode belajar ini dinilai sudah kuno karena disini guru sebagai pusat dari berbagai ilmu (teacher center). Dalam balajar tidak hanya mendengar saja tetapi akan lebih baik lagi apabila dilakukan metode atau aktivitas lain lagi.

2)      Memandang

            Di dunia ini banyak sekali hal yang  dapat dijadikan ilmu melalui stimulus visual kita. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang bisa kita pandang. Hal itulah yang bisa dijadikan ilmu oleh kita. Alam dan lingkungan kita dalah sekolah yang bisa dijadikan pembelajaran lewat memandang.

3)      Meraba, Mencium, dan Mencicipi/Mengecap

            Hal-hal tersebut seperti meraba, mencium, dan mencicipi adalah aktivitas sensorik sama halnya dengan mendengar dan memandang. Aktivitas meraba, mencium dan mengecap dapat dijadikan pembelajaran apabila didorong oleh kebutuhan-kebutuhan atau motivai untuk mencapai tujuan tertentu.

4)      Menulis dan Mencatat

            Mencatat adalah salah satu aktivitas dari belajar. Seseorang mencatat atau menulus sebuah poin-poin untuk mudah diingat dan diaplikasikannya. Tidak semua aktivitas mencatat adalah suatu proses belajar seperti menjiplak atau mengkopi termasuk menyontek adalah aktivitas mencatat yang menurun. Mencatat yang dikatakan belajar adalah apabila dalam mencatat tersebut dapat diketahui tujuan dan kebutuhannya agar proses belajar dapat menyerap.

5)      Membaca

            Membaca merupakan aktivitas belajar yang apabila dapat dilakukan dengan benar dpat mengakibatkan penyerapan ilmu. Membac yang bukan dikatakan belajar adalah membaca sambil berbaring atau tiduran. Membaca sambil berbaring bukan dikatakan belajar karena pikiran orang yang membaca sambil berbaring terbagi antara membaca dan tiduran. Membaca yang efektif adalah membaca dengan set, misalnya dengan memperhatikan judul, topik-topik, utama dengan berorientasi ke tujuan.

6)      Membuat Ikhtisar atau Ringkasan, dan Menggarisbawahi

            Ikhtisar atau ringkasan ini dapat membantu mengingat segala macam ilmu yang sudah kit abaca lewat buku pada masa-masa yang akan datang. Sementara membaca, hal-hal yang penting dapat kita garis bawahi untuk membantu mengingatkan kembali hal yang kit abaca dim as-masa yang akan datang. Hal-hal ini dapat membantu pengingatan kita dalam jangka waktu panjang yang akan datang.

7)      Mengamati Tabel-Tabel, Diagram-Diagram, dan Bagan-Bagan

            Dalam buku atau di lingkungan lain banyak kita jumpai bagan, tabel dan diagram. Materiil non-verbal ini sangat berguna untuk mempelajari materiil yang relevan itu. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang mambantu pemahaman kita tentang sesuatu hal.

8)      Menyusun Paper atau Kertas Kerja

            Dalam membuat paper yang terutama perlu mendapat perhatian adlah rumusan topik paper tersebut. Dari rumusan topik tersebut dapat ditentukan materiil yang relevan. Paper yang baik memerlukan perencanaan yang masak dengan terlebih dahulu mengumpulkan ide-ide yang menunjang serta penyediaan sumber-sumber yang relevan.

9)      Mengingat

            Mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu, belum termasuk sebagai aktifitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termauk aktifitas belajar, apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktifitas-akrifitas belajar lainnya.

10)  Berfikir

            Dengan berfikir kita dapat menemukan penemuan-penemuan yang baru setidaknya kita menjadi tau tentang sesuatu yang telah kita pikirkan. Dengan berfikir kita akan mendapatkan gagasan-gagasan mengenai pemikiran kita.

11)  Latihan dan Praktek

            Latihan dan praktek merupakan ektivits belajar dengan mengaplikasikan teori dan ilmu yang sudah didapatnya ke dalam dunia nyata. Orang melaksanakan kegiatan belatih tentunya sudah mempunyai dorongan untuk mencapai tertentu yang dapat mengembangkan aspek pada dirinya. Orang yang berlatih atau berpraktek sesuatu tentunya menggunakan set tertentu sehingga setiap gerakan atau tindakannya terarah kepada suatu tujuan.

 

 

 

  1. Teori Belajar

 

            Untuk lebih memperjelas pengertian kita mengenai belajar, dan bagaimana proses belajar itu sendiri maka akan dijelaskan mengenai teori-teori belajar yang telah ditemukan oleh para ahli psikologi menurut aliran psikologinya yang merupakan hasil penyelidikannya. Teori belajar yang terkenal dalam psikologi antara lain ialah :

  1.  
    1. Teori Conditioning
    2. Teori Connectionism, dan
    3. Teori menurut Psikologi Gestalt

 

a.      Teori Conditioning

 

1)      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

            Teori ini adalah teori belajar dengan menguji seeklor anjing yang sudah dibedah sedemikian rupa sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya. Anjing itu dimasukkan ke dalam ruangan yang gelap. Di dalam riangan itu hanya terdapat sebuah lubang di depan moncongnya. Alat-alat yang dipergunakan dalam percobaan itu antara lain makanan, lampu senter untuk menyorotkan berbagai macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.

            Dari hasil percobaan-percobaan yang dilakukan Pavlov maka dapat disimpulkan bahwa gerakan reflek itu dapat dipelajari; dapat berubah karena adanya latihan. Sehingga dapat dibedakan reflek ke dalam dua macam yaitu reflek wajar (unconditioned reflex) yaitu reflek yang keluar air liur karena melihat makanan yang lezat dan refleks bersyarat/refleks yang dipelajari (conditioned-reflex) yaitu keluarnya air liur karena menerima atau bereaksi dengan warna sinar tertentu, atau terhadap bunyi tertentu.

            Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar iru adalah suetu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian timbulkan reaksi (response). Yang terpenting menurut teori ini ialah adanya latihan-lathan yang intensif dan kontinu.

 

 

2)      Teori Conditioning dari Guthrie

 

            Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deratan-derartan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi/respons dari perangsang/stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sehingga merupakan deretan-deretan unit tingkah laku yang terus menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosialisasi antar unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan. Ulangan-ulangan atau latihan yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

 

3)      Teori Operant Conditioning (Skiner)

 

            Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons sama seperti Pavlov dan Watson. Hanya perbedaannya, skinner membuat perincian lebih lanjut antara perbedaan dua macam respons, yaitu:

  1. Respondent rensponse (reflexive response)

      Yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. misalnya keluar air liur setelah melihat makanan tertentu.

  1. Operant response (instrumental response)

      Yaitu respon yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu perangsang tersebut dinamakan reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsang itu memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme.

 

4)      Teori Systematic Behaviour (Hull)

 

            Clark C. Hull mengungkapkan teorinya yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, dan ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.

b.      Teori Conectionism (Torndike)

 

            Proses belajar menurut Thorndike adalah teori belajar yang melalui proses trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan) dan law of effect (segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Thorndike mengujinya dengan menguju seekor kucing yang dimasukka ke dalam kandang yang tertutup dan diluar kandang tersebut terdapat sepiring makanan. Kucing tersebut mencoba keluar dengan mengelilingi kandang tersebut. Pada suatu ketika pintu terbuka secara tidak sengaja. Lama kelamaan kucing itu telah terbiasa dengan keadaan itu dan telah tau bagaimana cara membuka pintu kandang tersebut dengan waktu yang lama dan berulangkali.

 

c.       Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt

 

            Belajar menurut teori psikologis Gestalt dapat diterangkan sebagai berikut. Pertama dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insight) merupakan fktor yang penting. Dengan belajar dapat dipahami dan mengerti hubunngan  antara pengetahuan dan pengalaman. Kedua, dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan.

            Manusia adalah mahluk yang mempunyai jasmani dan rohani. Manusia bukan makhluk reaksi yang hanya berbuat atau beraksi jika ada perangsag yang mempengaruhinya. Jadi dalam teori ini pengalaman secara membabibuta saja tetapi dengan pemahaman adalah cara yang efektif untuk belajar bagi manusia.

 

SUMBER-SUMBER

 

Djiwandono, Sri E.W. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Edisi Revisi. Jakarta: PT    Gramedia Widiasarana Indonesia.

Purwanto, Ngalim. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Bandung: Rosdakarya

Soemanto, Wasty. 2006. PSIKOLOGI PENDIDIKAN; LANDASAN KERJA PEMIMIPIN PENDIDIKAN. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mei 3, 2009 - Posted by | Pendidikan

2 Komentar »

  1. Bagus neh, tulisannya ya???

    Salam kenal…

    Komentar oleh suciptoardi | Mei 6, 2009 | Balas

    • sama2…

      Komentar oleh Deden | Juni 7, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: