Dedensoleh’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Daya Saing Lulusan Perguruan Tinggi

1. Kajian / Masalah Krusial Untuk Mendukung Peningkatan Mutu Pendidikan di Perguruan Tinggi

    Permasalahan yang akan selalu muncul di dunia pendidikan Indonesia mencakup tiga hal, yaitu Pemerataan dan Perluasan akses pendidikan, mutu pendidikan, relevansi dan daya saing pendidikan. Tiga hal tersebut yang selalu menjadi perbincangan di semua kalangan mengenai pendidikan di Indonesia. Hal tersebut yang menyebabkan maju atau mundurnya dunia Pendidikan di Indonesia.

    Perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga professional selalu berusaha mengkaji masalah ini terus menerus. Perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga professional selalu berusaha mengkaji masalah ini terus menerus. Perguruan tinggi atau pendidikan tinggi menurut Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 adalah Pasal 19 ayat (1) ”Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi”.

    Disini saya ambil contoh pendidikan tinggi yang mencetak tenaga pendidikan dan kependidikan (LPTK) IKIP Bandung atau sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Prof. Dr. Ahmad Sanusi dalam buku yang berjudul Pendidikan Alternatif menliskan bahwa lulusan LPTK di Indonesia selalu dibutuhkan oleh masyarakat sampai-sampai pemerintah mengizinkan pihak swasta untuk membangun LPTK di setiap kota/kabupaten. Justru semakin lama masalah yang terjadi adalah semakin sempitnya peluang kerja bagi lulusan LPTK/IKIP.

    Manajemen pendidikan tinggi yang menganggap pendidikan sebagai produk, bukannya sama sekali melupakan masalah kualitas produk. Pemasaran pendidikan tinggi juga dilakukan dengan menjual “kualitas” produk. Pemahaman mengenai kualitas itu sendiri berubah dari “kualitas pendidikan” menjadi “kualitas produk pendidikan”. Kualtitas pendidikan yang sebenarnya terletak pada kemampuan ilmu untuk diterapkan di masyarakat, kemampuan ilmu untuk melakukan peningkatan kualitas hidup.

    Mutu lulusan menjadi permasalahan yang utama menyangkut dengan daya saing lulusan di perguruan tinggi. Mutu lulusan itu juga disebabkan oleh factor mutu tenaga pendidik (Dosen), sarana dan prasarana pendidikan, dan juga kebijakan perguruan tinggi tersebut. Ketiga hal tersebut yang menjadi penyebab krusial untuk menunjang mutu lulusan di perguruan tinggi. Mutu lulusan akan meningkatkan daya saing dari lulusan itu pribadi dan perguruan tinggi yang bersangkutan.

    Menurut Prof. Dr. Slamento Istilah daya saing (competitiveness), “diawali” dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage), mendapat perhatian semakin besar terutama tiga dekade belakangan ini. Daya saing, satu dari sekian jargon yang sangat populer, tetapi tetap tak sederhana untuk dipahami. Sebagai konsep yang multidimensi, daya saing sangat memungkinkan beragam definisi dan pengukuran.

    Pilar utama daya saing bangsa adalah human capital atau sumber daya manusia, modal manusia, yang kedua adalah inovasi teknologi. Masalah SDM yang rendah menyebabkan proses pembangunan yang selama berjalan kurang didukung oleh produktivitas dan kualitas tenaga kerja yang memadai. Tingkat produktivitas SDM merupakan salah satu tolok ukur kualitas SDM, faktanya dalam 4 tahun terakhir makin menurun. Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah mengakibatkan menurunnya produktivitas tenaga kerja. Peringkat produktivitas Indonesia menurut IMD World Competition Yearbook 2006 adalah 59, sedangkan Thailand 27, Malaysia 28, Korea 29, Cina 31, India 39 dan Philipina berada di peringkat 49.

    Demikian juga dalam kajian pendidikan tinggi, masalah SDM yang menjadi hal yang krusial dalam meningkatkan daya saing lulusan. Mutu dosen dan ke-efektivan pegawai kependidikan menjadi hal yang utama untuk meningkatkan daya saing lulusan perguruan tinggi. Jadi tingginya mutu SDM perguruan tinggi maka akan tinggi juga daya saing di perguruan tinggi tersebut karena SDM akan menciptakan llulusan-lulusan yang kompetitif dibandingkan lulusan-lulusan di perguruan tinggi lainnya.

    Masalah yang terjadi adalah kurangnya mutu SDM di perguruan tinggi. Komitmen yang kurang dari dosen dan tenaga kependidikan menjadi kunci utama kurangnya kompetensi lulusan perguruan tinggi, selain masalah kurikulum dan sarana prasarana. Pemangkasan kurikulum pada sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia menjadi penyebab kurangnya mutu mengajar dosen. Kurangnya kompensasi yang diberikan juga sebagai salah satu penyebab juga. Jadi dalam hal ini komitmen dosen dipengaruhi oleh kurikulum dan kompensasi yang diberikan.

    2. Identifikasi Problema Yang Dikembangkan

    1. Sumber Daya Manusia

      Masalah pendidikan di Indonesia saat ini masih seputar rendahnya kualitas, relevansi, efisiensi dan produktivitas serta efektivitas. Penyebabnya adalah ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, dan kesejahteraan pendidik yang belum memadai, (Renstra Depdiknas, 2005). Akar masalahnya ada pada leadership dan internal perguruan tinggi tersebut.

      Kunci keberhasilan peningkatan kualitas SDM sangat ditentukan oleh management dan leadership. Seorang leader harus jeli melihat preferensi orang yang akan dilibatkan. Orang yang mempunyai preferensi dan kemampuan rendah dangan pemberdayaan rendah, maka ia akan bersifat complaint. Sebaliknya orang yang mempunyai preferensi dan kemampuan tinggi diberdayakan maksimal maka ia akan bersifat adaftive.

      SDM di PT akan berhubungan dengan daya saing lulusan PT tersebut. Mutu dosen yang menjadi hal utama peningkatan mutu lulusan tersebut. Komitmen dosen dalam mengajar menjadi hal utama untuk tujuan tersebut, mengingat banyak dosen di PT yang tidak komit dalam mengajar.

      2. Sarana Prasarana

        Pemberdayaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana untuk generated fund selama ini belum optimal dilakukan. Misalnya peralatan yang dimiliki fakultas selama ini masih sebatas untuk keperluan praktek mahasiswa semata. Pada hal sesungguhnya dapat dioptimalkan dengan pola-pola kemitraan. Andai saja terdapat kemitraan antara jurusan Tata Busana dengan pengusaha garmen atau Boutique, tentu praktek mahasiswa dapat diarahkan untuk memproduksi pakaian sesuai dengan kebutuhan pasar, lalu hasil produksi tersebut dipasarkan oleh pengusaha garmen atau Boutique. Demikian juga dengan jurusan Boga dapat bermitra dengan toko-toko roti yang saat ini sedang booming . Teknik Mesin dapat membangun kemitraan dengan industri otomotif berupa pendanaan, pelatihan, pemasaran dan sertifikasi (didalangi oleh task force). Doktor, magister dan mahasiswa yang dimiliki PT, baik itu dari fakultas teknik maupun dari fakultas seni akan dipadukan di bengkel bekerja sama dengan praktisi dan professional dari industri otomotif untuk mendirikan karoseri mobil. Input berupa tenaga kerja diambil dari mahasiswa terutama dari fakultas teknik. Output berupa barang dan jasa yang dihasilkan dipasarkan melalui pemasaran yang dimiliki industri otomotif atau jika memungkinkan Koperasi Pengawai Negeri (KPN) Unimed. Koperasi juga berkewajiban untuk mencari pelanggan di luar.

        3. Kebijakan Teknis

          Landasan hukum bagi PTN untuk menjadi otonom adalah pasal 53(1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional yang menyatakan ’penyelenggara dan atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan’. Pasal 53 (4) UU Sisdiknas tersebut menyatakan ’ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan undang-undang tersendiri’. Penjelasan pasal 53 (1), UU Sisdiknas menyatakan, ’Badan Hukum Pendidikan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidkan, antara lain berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Pasal 74 UU Sisdiknas menyatakan ’semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pnedidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 No. 6, tambahan lembaran negara No. 3390) yang ada pada saat diundangkannya undang-undang ini masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan undang-undang ini’.

          Kebijakan tentang kurikulum juga menentukan peningkatan mutu pendidikan PT di Indonesia. Pemangkasan kurikulum yang terjadi pada sebagian besar PT di Indonesia juga menjadi sebab berkurangnya mutu lulusan. Percepatan kelulusan mahasiswa berkorelasi dengan kesiapan lulusan menuju dunia kerja. semakin cepat kelulusan mahasiswa maka semakin rendah kesiapan mahasiswa tersebut menuju jenjang karir yang baik.

          3. Solusi Pemecahan Masalah

            Tidak mudah untuk mengubah persepsi atau pemikiran orang apalagi yang berkaitan dengan public luas. Begitu pula dengan permasalahan daya saing di perguruan tinggi. Berikut solusi yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah daya saing lulusan dibagi ke dalam tiga aspek yang terkait diatas.

            1. Sumber Daya Manusia

            Reward (penghargaan) yang layak adalah salah satu solusi pemecahan masalah mutu SDM di perguruan tinggi. Dengan kompensasi yang tinggi, maka kualitas SDM akan meningkat karena termotivasi dengan kompensasi tersebut. Nani Handoko (1987:155) mengatakan bahwa “Suatu departemen personalia meningkatkan prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi.” Sama halnya dengan tenaga pendidikan, kompensasi juga perlu ditinkatkan untuk meningkatkan motivasi kerja dosen di Perguruan Tinggi.

            Konsep reward juga hars diimbangi dengan punishment (hukuman). Punishment ini harus diberlakukan bila ada tenaga pendidik dan kependidikan yang bekerja tidak sesuai dengan ranah kerjanya. Prof. Dr. Ahmad Sanusi menjelaskan perlu adanya memorandum hukum dalam meningkatkan mutu SDM di Perguruan tinggi. Menurut Sanusi (1998) “memorandum hukum adalah pendapat hukum mengenai kasus hukum yang konkret yang membuat rekomendasi atau saran yang spesifik yang dianggap paling tepat.”

            2. Sarana dan Prasarana

              Dalam buku Pengantar Pengelolaan Pendidikan Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, “sarana dan prasarana mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dan tidak langsung menunjang dalam proses kegiatan pendidikan.” Sarana yang baik akan menunjang kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi.

              Solusi yang ditawarkan adalah dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas sarana dan prasarana di PT. Sarana yang telah ada di perguruan tinggi lebih diefektifkan penggunaanya selebihnya yang kurang agar ditambahkan. Laboratorium sebagai media praktek harus lebih difungsikan dengan baik guna meningkatkan mutu dan daya saing lulusan PT.

              3. Kebijakan Teknis

                Semua berawal dari kebijakan. Segala hal yang bersifat teknis berawal dari kebijakan. Tanpa adanya kebijakan dari pimpinan maka solusi tersebut diatas tidak akan terealisasi. Kebijakan teknis mengenai kurikulum dan pengembangan SDM sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas lulusan PT. Kurikulum yang lebih berlandaskan pada praktek adalah kunci sukses dalam meningkatkan mutu dan daya saing lulusan Perguruan Tinggi. Jadi harus lebih ditingkatkan praktek kerja daripada teori, karena dengan praktek maka teori akan sendirinya berjalan mengikuti.

                Februari 4, 2010 - Posted by | Pendidikan

                2 Komentar »

                1. wah ga nyangka euy…..hebat..hebat.,,..

                  ajaran donk kang bikin blog!

                  oya bahannya izin dicopy ya buat sumber matkul kebijakan yeuh,,,,

                  makasih..

                  Komentar oleh icha | April 29, 2010 | Balas

                  • ah cuma iseng2 aja…
                    makasih ya… kasih tau anak2 adpend klo btuh referensi ke blog ini aja…
                    sok aja mau mah, asal dicantumkan kutipannya…

                    Komentar oleh Deden | Mei 1, 2010 | Balas


                Tinggalkan Balasan

                Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                Logo WordPress.com

                You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                Gambar Twitter

                You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                Foto Facebook

                You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                Foto Google+

                You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                Connecting to %s

                %d blogger menyukai ini: